Tempat Wisata Populer Banyuwangi 2018

Tempat Wisata Populer Banyuwangi 2018

 Tempat Wisata Populer Banyuwangi 2018

Awalnya jalan-jalan ke Banyuwangi hanya obrolan iseng antar beberapa teman WWS77 yang hobbynya jalan-jalan.  Ngobrolnya di WA pula.  Tau-taunya ajakan jalan bersama ke Banyuwangi dari satu teman ke teman menyambung terus sampai terkumpul sekitar 20 orang.  Akhirnya kami tetapkan akhir Mei 2018.  Jalan-jalan 4 hari 3 malam.

Banyuwangi menjadi pilihan kami karena keingin tauan kami akan alamnya yang indah yang banyak dibicarakan orang di medsos, seperti Kawah Gunung Ijen, Taman Nasional Baluran, Teluk Hijau, De Djawatan dengan hutan pohon trembesi yang sudah berumur ratusan tahun, pantai Pulau Merah dan lainnya.  Yang juga menjadi value added  kami adalah,  adanya pesawat langsung dari Jakarta ke Banyuwangi.  Pilihannya ada beberapa seperti Citilink, NAM Air, Batik Air dan Garuda Indonesian Airways.

 

 

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga.  Kami berduapuluh orang berangkat dari Soekarno Hatta, Cengkareng,  Jakarta dengan Citilink.  Lama terbang sekitar 1,5 jam.  Setiba di Banyuwangi kami langsung makan siang di Resto Daipung yang spesialisasinya adalah ayam bakar.  Setelah makan siang kami menuju ke De Djawatan melihat hutan trembesi yang pohon-pohonnya  berumur ratusan tahun yang merupakan keajaiban alam.  Tanpa terasa Magrib tiba, kami berangkat menuju Osingdeles Cafe & Resto untuk makan malam.

Resto ini menyajikan makanan khas Banyuwangi yaitu rujak soto; semacam gado-gado dicampur dengan kuah soto yang rasanya mantul: mantab betul :).  Osingdeles bukan saja berfungsi sebagai Resto, juga sebagai toko oleh-oleh;  Menjual kaos, makanan kecil, batik Banyuwangi, kerajinan tangan,  dll.  Selesai makan malam kami menuju hotel untuk check-in.

 

Keesokan pagi, kami sarapan di Warung Pak Slamet yang terkenal dengan sotonya.   Dari situ kami pergi menuju Teluk Hijau yang jaraknya lumayan jauh dari hotel kami menginap.  Menuju Teluk Hijau kami harus menyeberang  ke pulau kecil dengan menggunakan kapal kayu.  Program hari itu seharian di pantai, ditutup dengan melihat matahari terbenam (sunset) di Pantai Pulau Merah sebelum kembali ke hotel.

Hari ke tiga kami ke Taman Nasional Balurang, sebuah hutan luas, savana dimana dapat ditemukan banteng liar, rusa, monyet dan binatang lainnya yang dilindungi dan bebas berkeliaran.  Kami disitu seharian untuk photo-photo.  Sorenya kami kembali ke hotel karena harus siap-siap untuk acara makan malam istimewa.

Malam terakhir kami di Banyuwangi, kami bersuka cita dengan pemain organ tunggal ditemani oleh seorang penyanyi.  Berhubung beberapa peserta WWS77  adalah penerima “Grammy Award 1977”  seperti Perry OD dan  Woro, mereka didaulat oleh teman-teman  untuk  menyumbangkan suara mereka yang dasyat.  Sementara rekan-rekan lainnya berjoged ria.

Malam itu kami menggunakan Dress Code.   Yang ibu-ibu, menggunakan kain atau sarung kebaya, sedangkan yang bapak-bapak menggunakan kemeja batik.  Maksudnya biar keren kalo diphoto :). Kalo meminjam istilah anak milenial: “biar Instagramable”.  Malam itu sekalian merayakan ulang tahun rekan kita  Woro  yang menginjak “tweet 60“.

Moment klimaks yang ditunggu-tunggu oleh sebagian peserta adalah mendaki Kawah Gunung Ijen.  Yang berangkat  dijemput oleh penyelenggara wisata jam 02.00 am.  Teman-teman yg tidak berangkat lanjut dengan tidurnya.  Teman yang naik ke Kawah Gunung Ijen tiba kembali di hotel sekitar jam 10.00 am.  Sekitar jam 12.00 siang, kami semua check-out dari hotel.  Sebelum menuju ke bandara kami makan siang bersama terlebih dulu.

Teman-teman bila ke Banyuwangi perlu mencoba makanan khas Banyuwangi seperti ayam asap, rujak soto, sego tepong……..  Maknyusss Image result for emoji

Note:
Sumber diceritakan oleh
Yetty Rachman (Kesos 1977), dirangkum dan ditulis oleh W. Darwin (Sosiologi 1977).  Terima kasih juga atas kontribusi foto-foto dan video-video-nya Image result for emoji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!